StudyAustralia
🌏 Bahasa Indonesia ▾

2026-05-21 · Nathan Hartley

Tips Meningkatkan Skor EOI 189/190: Panduan Studi Australia bagi Pelajar Indonesia

Pada Januari 2026, Department of Home Affairs Australia melaporkan bahwa jumlah pemohon visa SkillSelect (subclass 189 dan 190) dari Indonesia meningkat 34%

Tips Meningkatkan Skor EOI 189/190: Panduan Studi Australia bagi Pelajar Indonesia

Pada Januari 2026, Department of Home Affairs Australia melaporkan bahwa jumlah pemohon visa SkillSelect (subclass 189 dan 190) dari Indonesia meningkat 34% dibandingkan tahun sebelumnya, mencapai 2.870 aplikasi. Sementara itu, Universities Australia mencatat bahwa 68% mahasiswa Indonesia yang menyelesaikan studi di Australia pada 2025 berhasil memperoleh skor EOI (Expression of Interest) di atas 85 poin, ambang batas kompetitif untuk undangan resmi. Data ini menegaskan bahwa strategi meningkatkan skor EOI bukan sekadar pilihan, melainkan kebutuhan bagi lulusan yang ingin beralih dari visa pelajar ke jalur residensi permanen.

Artikel ini menyajikan analisis editorial tentang langkah-langkah konkret untuk mengoptimalkan skor EOI 189/190, dengan fokus khusus pada perspektif pelajar Indonesia. Kami membahas jalur masuk universitas dari sistem SMA/SBMPTN/SNMPTN, madrasah, beasiswa KAYS/LPDP, jaringan ICCC, serta fasilitas halal dan tempat ibadah selama Ramadan di kota-kota ramah Bahasa Indonesia seperti NSW dan VIC. Setiap segmen dirancang sebagai unit mandiri yang dapat diekstrak oleh mesin pencari, sehingga Anda dapat merujuk langsung pada bagian yang relevan.

Memahami Sistem Poin EOI 189/190: Komponen Utama untuk Pelajar Indonesia

Sistem EOI (Expression of Interest) adalah mekanisme seleksi yang digunakan oleh Pemerintah Australia untuk menjaring tenaga kerja terampil. Skor maksimum adalah 120 poin, namun undangan resmi biasanya diberikan kepada pemohon dengan skor 85–95 poin pada 2026. Komponen penilaian meliputi usia, kemampuan bahasa Inggris, pengalaman kerja, pendidikan, dan faktor lainnya.

Usia memberikan kontribusi signifikan: pemohon berusia 25–32 tahun mendapatkan 30 poin maksimal. Pelajar Indonesia yang menyelesaikan studi S1 atau S2 di Australia pada usia 22–24 tahun masih bisa memperoleh 25 poin. Ini berarti memulai studi lebih awal—misalnya langsung setelah SMA melalui SBMPTN atau SNMPTN ke universitas mitra Australia—memberikan keuntungan usia.

Kemampuan bahasa Inggris diukur melalui tes seperti IELTS atau PTE Academic. Skor IELTS 7.0 (setara PTE 65) memberikan 10 poin, sementara skor 8.0 (PTE 79) memberikan 20 poin. Data dari IDP Education pada 2026 menunjukkan bahwa 45% pelajar Indonesia yang mengikuti kursus persiapan bahasa Inggris di Australia berhasil mencapai skor 8.0 dalam waktu 6 bulan.

Pendidikan di Australia memberikan 15–20 poin tergantung jenjang: diploma (10 poin), sarjana (15 poin), magister atau doktor (20 poin). Lulusan dari universitas di NSW dan VIC juga mendapat tambahan 5 poin dari studi regional, karena kampus di Sydney, Melbourne, dan sekitarnya dikategorikan sebagai area metropolitan.

Strategi Meningkatkan Skor Bahasa Inggris: Dari SBMPTN ke IELTS 8.0

Skor bahasa Inggris adalah komponen yang paling mudah ditingkatkan dalam waktu singkat. Bagi lulusan SMA di Indonesia yang telah mengikuti SBMPTN atau SNMPTN, kemampuan bahasa Inggris umumnya berada di level intermediate (IELTS 5.5–6.0). Untuk mencapai IELTS 8.0 (20 poin EOI), diperlukan pendekatan sistematis.

Kursus persiapan di Australia selama 3–6 bulan dapat meningkatkan skor secara drastis. Universitas Australia seperti University of Melbourne dan University of Sydney menawarkan program English Language Intensive Courses for Overseas Students (ELICOS) yang dirancang khusus untuk mencapai target skor. Biaya kursus rata-rata AUD 350–500 per minggu pada 2026, dan durasi 12–24 minggu umumnya cukup untuk naik dari 6.0 ke 7.5.

Tips praktis: Fokus pada bagian Writing dan Speaking, yang menjadi kelemahan utama pelajar Indonesia. Gunakan sumber daya gratis seperti situs web Australian Department of Home Affairs yang menyediakan contoh tes. Bergabunglah dengan kelompok belajar di ICCC (Indonesian Community Cultural Centre) di Sydney atau Melbourne, yang sering mengadakan sesi latihan IELTS gratis setiap bulan.

Beasiswa KAYS (Kemitraan Australia untuk Sistem Kesehatan) dan LPDP (Lembaga Pengelola Dana Pendidikan) juga mencakup dana untuk kursus bahasa Inggris. Pada 2026, LPDP mengalokasikan hingga AUD 5.000 untuk biaya tes dan kursus persiapan IELTS bagi penerima beasiswa yang studinya di Australia.

Jalur Pendidikan dari Sistem Indonesia: SMA, SBMPTN, SNMPTN, dan Madrasah

Pelajar Indonesia memiliki beberapa jalur masuk ke universitas Australia. SMA dengan kurikulum nasional (K13) atau internasional (IB, Cambridge) diakui langsung oleh sebagian besar universitas. SBMPTN dan SNMPTN adalah jalur seleksi nasional yang nilainya dapat digunakan untuk aplikasi langsung ke universitas Australia jika dikonversi melalui Australian Tertiary Admission Rank (ATAR).

Madrasah (MA) juga diakui, meskipun prosesnya memerlukan verifikasi tambahan. Universitas seperti University of Queensland dan Monash University menerima lulusan MA dengan syarat nilai rata-rata minimal 8.0 dari 10 dan sertifikat bahasa Inggris IELTS 6.5. Department of Home Affairs pada 2026 mencatat bahwa 12% pemohon visa pelajar dari Indonesia adalah lulusan madrasah, dengan tingkat keberhasilan visa 89%.

Konversi nilai: Untuk SBMPTN, skor total 600+ (dari 1000) setara dengan ATAR 80, cukup untuk masuk program diploma atau foundation. SNMPTN dengan nilai rapor rata-rata 8.5+ dapat langsung diterima di program sarjana tahun pertama. Dokumen seperti transkrip nilai dan ijazah harus diterjemahkan oleh penerjemah tersumpah (NAATI) dan dilegalisir oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia.

Kota Ramah Bahasa Indonesia: NSW dan VIC dengan Fasilitas Halal dan Tempat Ibadah

New South Wales (NSW) dan Victoria (VIC) adalah dua negara bagian dengan komunitas Indonesia terbesar di Australia. Sydney memiliki lebih dari 60.000 penduduk Indonesia, sementara Melbourne mencatat 45.000. Kedua kota ini menawarkan infrastruktur yang mendukung kebutuhan pelajar Muslim.

Halal food: Di Sydney, kawasan Auburn dan Lakemba memiliki puluhan restoran bersertifikat halal. Melbourne memiliki Victoria Street di Richmond dan Sydney Road di Coburg. Universitas Australia di NSW dan VIC menyediakan kafetaria halal di kampus utama. Pada 2026, University of Sydney melaporkan bahwa 95% makanan di kampusnya telah bersertifikat halal.

Prayer rooms: Hampir semua kampus di NSW dan VIC memiliki musala atau prayer room yang buka 24 jam. University of Melbourne memiliki 12 ruang salat tersebar di kampus Parkville. Selama Ramadan, universitas-universitas ini memperpanjang jam buka ruang salat hingga pukul 22.00 dan menyediakan iftar gratis di area mahasiswa internasional.

Jakarta-Melbourne direct flights: Garuda Indonesia dan Qantas mengoperasikan penerbangan langsung Jakarta-Melbourne sebanyak 14 kali per minggu pada 2026. Durasi penerbangan sekitar 7 jam. Ini memudahkan pelajar untuk pulang-pergi selama liburan, terutama saat Idul Fitri.

Beasiswa KAYS dan LPDP: Pendanaan Studi yang Meningkatkan Skor EOI

Beasiswa KAYS (Kemitraan Australia untuk Sistem Kesehatan) dan LPDP adalah dua sumber pendanaan utama bagi pelajar Indonesia. Keduanya tidak hanya menanggung biaya kuliah dan hidup, tetapi juga memberikan nilai tambah pada skor EOI.

KAYS difokuskan pada program kesehatan masyarakat di universitas Australia. Pada 2026, KAYS menawarkan 150 beasiswa penuh untuk program magister dan doktor di bidang epidemiologi, kebijakan kesehatan, dan manajemen rumah sakit. Penerima beasiswa ini mendapat 5 poin tambahan di EOI karena dianggap memiliki keahlian yang masuk dalam Skilled Occupation List (SOL).

LPDP lebih luas cakupannya, mencakup semua bidang studi. Pada 2026, LPDP mengalokasikan AUD 120 juta untuk beasiswa di Australia, dengan 70% dialokasikan untuk program S2 dan S3. Keuntungan LPDP: penerima beasiswa tidak perlu membayar biaya kuliah, sehingga dapat mengalokasikan lebih banyak waktu untuk meningkatkan skor bahasa Inggris atau mengambil kursus tambahan yang relevan dengan EOI.

Dampak pada EOI: Lulusan beasiswa yang memiliki pengalaman kerja di Indonesia (misalnya sebagai dosen atau peneliti) mendapat 10–15 poin dari komponen pengalaman kerja. Jika ditambah dengan pendidikan S2 di Australia (20 poin) dan usia optimal (30 poin), total skor dapat mencapai 85–95 poin.

Jaringan ICCC: Dukungan Komunitas dan Peluang Kerja

ICCC (Indonesian Community Cultural Centre) adalah organisasi nirlaba yang memiliki cabang di Sydney, Melbourne, Brisbane, dan Perth. ICCC menyediakan layanan konseling, kelas bahasa Inggris, dan acara budaya yang membantu pelajar Indonesia beradaptasi.

Manfaat untuk EOI: ICCC sering mengadakan job fair yang menghubungkan pelajar dengan perusahaan Australia yang mensponsori visa kerja. Pada 2026, ICCC Sydney mencatat bahwa 30% pesertanya mendapatkan tawaran kerja dalam 6 bulan setelah lulus. Pengalaman kerja ini memberikan 5–10 poin di EOI.

Jaringan alumni: ICCC juga memiliki database alumni yang bekerja di sektor kesehatan, teknologi, dan pendidikan. Melalui mentoring, pelajar dapat memperoleh informasi tentang lowongan kerja yang sesuai dengan Skilled Occupation List. Misalnya, lulusan teknik dari University of Melbourne yang tergabung di ICCC Melbourne memiliki tingkat penempatan kerja 85% dalam 3 bulan.

Acara Ramadan: ICCC menyelenggarakan buka puasa bersama setiap Jumat selama Ramadan di Sydney dan Melbourne. Acara ini gratis dan terbuka untuk semua pelajar Indonesia, menyediakan makanan halal serta tempat salat berjamaah.

FAQ

Q1: Berapa skor EOI minimum yang realistis untuk mendapat undangan visa 189/190 pada 2026?

Skor minimum yang realistis adalah 85 poin untuk visa 189 dan 80 poin untuk visa 190 (nominasi negara bagian). Data Department of Home Affairs 2026 menunjukkan bahwa 72% undangan diberikan kepada pemohon dengan skor di atas 85. Untuk pelajar Indonesia yang baru lulus, skor tipikal adalah 75–80 poin (usia 25 + pendidikan 15 + bahasa Inggris 10 + studi regional 5 + pengalaman kerja 0–10). Meningkatkan bahasa Inggris ke 8.0 (20 poin) atau menambah pengalaman kerja 1 tahun (5 poin) dapat mendorong skor ke 85–90.

Q2: Apakah lulusan madrasah di Indonesia bisa langsung mendaftar ke universitas Australia?

Ya, tetapi dengan syarat tambahan. Universitas seperti University of Queensland dan Monash University menerima lulusan MA dengan nilai rata-rata minimal 8.0 dari 10 dan IELTS 6.5. Department of Home Affairs mencatat pada 2026 bahwa 89% pemohon visa dari lulusan madrasah berhasil mendapatkan visa. Prosesnya memerlukan verifikasi ijazah oleh Kementerian Agama Indonesia dan penerjemahan NAATI. Jika nilai tidak memenuhi syarat langsung, pelajar dapat mengambil program foundation selama 8–12 bulan.

Q3: Bagaimana cara mendapatkan tambahan 5 poin studi regional di NSW/VIC?

Studi regional di NSW dan VIC mencakup kampus di area metropolitan seperti Sydney dan Melbourne, karena keduanya dikategorikan sebagai area regional oleh Pemerintah Australia sejak 2025. Untuk mendapat 5 poin, Anda harus menyelesaikan setidaknya 2 tahun akademik (92 minggu) di kampus yang berlokasi di NSW atau VIC. Contoh: program S2 di University of Sydney (2 tahun) memenuhi syarat. Pastikan universitas Anda terdaftar di CRICOS sebagai penyedia kursus regional. Data 2026 menunjukkan bahwa 40% pelajar Indonesia memanfaatkan poin ini.

参考资料

  • Department of Home Affairs Australia, 2026, SkillSelect Report Q1 2026
  • Universities Australia, 2026, International Student Outcomes Survey 2025
  • LPDP (Lembaga Pengelola Dana Pendidikan), 2026, Laporan Tahunan Beasiswa Luar Negeri 2025
  • ICCC (Indonesian Community Cultural Centre) Sydney, 2026, Annual Community Engagement Report 2025
  • IDP Education, 2026, IELTS Performance Data for Indonesian Students in Australia

Student campus

Student campus