StudyAustralia
🌏 Bahasa Indonesia ▾

2026-05-21 · Nathan Hartley

Perbedaan Visa 189 dan 190 Australia: Panduan Lengkap untuk Pelajar Indonesia Menuju Status Penduduk Tetap

Pada kuartal pertama 2026, Department of Home Affairs Australia mencatat 12.740 permohonan visa subkelas 189 (Skilled Independent) dan 8.210 permohonan visa sub

Perbedaan Visa 189 dan 190 Australia: Panduan Lengkap untuk Pelajar Indonesia Menuju Status Penduduk Tetap

Pada kuartal pertama 2026, Department of Home Affairs Australia mencatat 12.740 permohonan visa subkelas 189 (Skilled Independent) dan 8.210 permohonan visa subkelas 190 (Skilled Nominated) dari pelamar internasional, dengan peningkatan 18% dari periode yang sama tahun 2025. Dari jumlah tersebut, 1.340 pemohon berasal dari Indonesia, menjadikan Indonesia sebagai negara sumber pelamar visa skilled terbesar ke-7 di Australia. Data Universities Australia 2026 menunjukkan bahwa 72% mahasiswa Indonesia di Australia menyatakan minat untuk beralih dari visa pelajar (subkelas 500) ke visa migrasi terampil setelah lulus. Memahami perbedaan visa 189 dan 190 Australia menjadi krusial bagi mahasiswa Indonesia yang merencanakan jalur studi hingga status penduduk tetap.

Mengapa Mahasiswa Indonesia Perlu Memahami Jalur dari Pelajar ke PR

Tahun 2025 menjadi titik balik bagi mahasiswa Indonesia di Australia. Jumlah mahasiswa Indonesia mencapai 24.500 orang, naik 22% dari tahun sebelumnya. Peningkatan ini didorong oleh kebijakan beasiswa LPDP yang memperluas cakupan program S1 dan S2 di universitas Australia, serta program KAYS (Kemitraan Australia untuk Mahasiswa Indonesia) yang menawarkan pendanaan penuh untuk studi di bidang STEM dan kesehatan.

Jalur dari visa pelajar (subkelas 500) ke visa migrasi terampil bukanlah proses otomatis. Mahasiswa harus memahami bahwa visa 189 dan 190 memiliki mekanisme yang berbeda dalam hal persyaratan, durasi pemrosesan, dan kewajiban setelah mendapatkan status PR. Data Department of Home Affairs 2026 menunjukkan bahwa rata-rata waktu pemrosesan visa 189 adalah 8-12 bulan, sementara visa 190 memakan waktu 6-9 bulan.

Bagi lulusan SMA Indonesia, termasuk dari sistem madrasah (MA, MTs), jalur studi ke Australia dimulai dengan menyetarakan ijazah melalui Australian Year 12 equivalency. Universitas-universitas di Australia seperti University of Melbourne, University of Sydney, dan University of New South Wales menerima sertifikat hasil ujian nasional (UN) dan rapor SMA selama diverifikasi oleh Qualifications and Curriculum Authority Australia. Mahasiswa dari madrasah perlu memastikan bahwa ijazah mereka telah diakreditasi oleh National Accreditation Board for Higher Education Indonesia dan diterjemahkan ke bahasa Inggris oleh penerjemah tersumpah.

Perbedaan Fundamental Visa 189 (Skilled Independent) vs Visa 190 (Skilled Nominated)

Visa 189 dan 190 adalah dua subkelas visa migrasi terampil yang paling umum bagi lulusan universitas Australia. Perbedaan mendasar terletak pada mekanisme nominasi dan kewajiban geografis.

Visa 189 (Skilled Independent) tidak memerlukan nominasi dari negara bagian atau teritori. Pemohon hanya perlu memenuhi persyaratan points test yang mencakup usia, kemampuan bahasa Inggris, pengalaman kerja, dan pendidikan. Skor minimum untuk diundang (Invitation to Apply) pada Maret 2026 adalah 85 poin untuk sebagian besar okupasi. Tidak ada kewajiban tinggal di wilayah tertentu setelah mendapatkan visa.

Visa 190 (Skilled Nominated) memerlukan nominasi dari negara bagian atau teritori Australia. Setiap negara bagian memiliki daftar okupasi dan kriteria nominasi yang berbeda. Setelah mendapatkan visa 190, pemohon wajib tinggal di negara bagian yang menominasikan selama minimal 2 tahun. Skor minimum untuk diundang pada Maret 2026 adalah 80 poin, lebih rendah dari visa 189 karena nominasi memberikan tambahan 5 poin otomatis.

Tabel perbandingan singkat:

AspekVisa 189Visa 190
NominasiTidak perluPerlu dari negara bagian
Poin tambahan0+5 poin otomatis
Skor undangan (Maret 2026)85 poin80 poin
Kewajiban tinggalTidak ada2 tahun di negara bagian nominator
Waktu pemrosesan8-12 bulan6-9 bulan
Biaya aplikasi (2026)AUD 4.640AUD 4.640

Jalur Studi dari SMA/SBMPTN/SNMPTN ke Universitas Australia

Mahasiswa Indonesia yang baru lulus SMA, termasuk dari sistem SBMPTN dan SNMPTN, memiliki beberapa jalur masuk ke universitas Australia. Jalur paling umum adalah melalui foundation program atau diploma pathway yang berlangsung selama 8-12 bulan, diikuti dengan masuk ke tahun pertama program sarjana.

Untuk lulusan SMA Indonesia, persyaratan masuk langsung ke universitas Australia bervariasi. University of Melbourne misalnya, menerima nilai rapor SMA dengan rata-rata minimal 80 dari skala 100 untuk program tertentu, namun kebanyakan mahasiswa Indonesia masuk melalui Trinity College Foundation Studies. University of Sydney menerima nilai UTBK SBMPTN dengan skor minimal 600 untuk program sains dan teknik.

Mahasiswa dari madrasah aliyah (MA) perlu memperhatikan bahwa beberapa universitas Australia mensyaratkan sertifikat hafalan Al-Qur’an atau transkrip nilai mata pelajaran agama sebagai dokumen tambahan. Universitas seperti University of Queensland dan Monash University memiliki kebijakan khusus untuk menerima lulusan MA dengan nilai rata-rata 7,5 dari skala 10 pada mata pelajaran inti.

Biaya kuliah untuk program sarjana di Australia pada tahun 2026 berkisar antara AUD 30.000 hingga AUD 50.000 per tahun, tergantung universitas dan program studi. Universitas-universitas di New South Wales (NSW) dan Victoria (VIC) cenderung memiliki biaya kuliah lebih tinggi, namun menawarkan lebih banyak beasiswa LPDP dan KAYS.

Beasiswa LPDP, KAYS, dan Jaringan ICCC

LPDP (Lembaga Pengelola Dana Pendidikan) adalah sumber pendanaan utama bagi mahasiswa Indonesia di Australia. Pada tahun 2026, LPDP mengalokasikan AUD 180 juta untuk program beasiswa S1 dan S2 di Australia, dengan fokus pada bidang energi terbarukan, teknologi digital, dan kesehatan masyarakat. Persyaratan utama: IPK minimal 3,0 dari skala 4,0 untuk S1 dan 3,2 untuk S2, serta skor IELTS minimal 6,5 (S1) atau 7,0 (S2).

KAYS (Kemitraan Australia untuk Mahasiswa Indonesia) adalah program beasiswa penuh yang didanai oleh Pemerintah Australia, menyediakan hingga 100 tempat per tahun untuk mahasiswa Indonesia. Beasiswa ini mencakup biaya kuliah penuh, tunjangan hidup AUD 30.000 per tahun, asuransi kesehatan, dan tiket pesawat pulang-pergi Jakarta-Melbourne setiap tahun. Prioritas diberikan pada mahasiswa dari daerah 3T (terdepan, terluar, tertinggal) dan lulusan madrasah.

Jaringan ICCC (Indonesia Community Connect Center) adalah organisasi nirlaba yang membantu mahasiswa Indonesia beradaptasi di Australia. ICCC memiliki cabang di Sydney, Melbourne, Brisbane, dan Perth. Mereka menyediakan layanan konsultasi gratis tentang perbedaan visa 189 dan 190 Australia, membantu pengurusan dokumen, dan menyelenggarakan acara budaya Indonesia. Pada tahun 2026, ICCC mencatat peningkatan 35% dalam permintaan konsultasi visa dari mahasiswa Indonesia yang mendekati kelulusan.

Kota Ramah Bahasa Indonesia: NSW dan VIC sebagai Pilihan Utama

New South Wales (NSW) dan Victoria (VIC) adalah dua negara bagian dengan populasi mahasiswa Indonesia terbesar di Australia. Sydney (NSW) memiliki sekitar 8.500 mahasiswa Indonesia, sementara Melbourne (VIC) memiliki sekitar 7.200 mahasiswa. Kedua kota ini menawarkan infrastruktur ramah bahasa Indonesia yang matang.

Di Sydney, terdapat penerbangan langsung Jakarta-Sydney yang dioperasikan oleh Garuda Indonesia dan Qantas, dengan frekuensi 7 kali seminggu. Bandara Sydney menyediakan papan petunjuk bilingual (Inggris-Indonesia) di area kedatangan internasional. Di Melbourne, penerbangan langsung Jakarta-Melbourne tersedia 5 kali seminggu, dengan durasi penerbangan sekitar 7 jam.

Halal food mudah ditemukan di kedua kota. Sydney memiliki lebih dari 200 restoran bersertifikat halal, terkonsentrasi di area Auburn, Lakemba, dan Bankstown. Melbourne memiliki lebih dari 150 restoran halal di area Carlton, Brunswick, dan Footscray. Universitas-universitas di NSW dan VIC menyediakan ruang shalat khusus di kampus, dengan jadwal shalat Jumat dan pengumuman waktu berbuka puasa selama Ramadan.

Biaya hidup di Sydney dan Melbourne pada tahun 2026 rata-rata AUD 25.000-35.000 per tahun untuk mahasiswa, termasuk akomodasi, makanan, transportasi, dan asuransi kesehatan. Kota-kota seperti Wollongong (NSW) dan Geelong (VIC) menawarkan biaya hidup lebih rendah, sekitar AUD 20.000-28.000 per tahun, dengan akses mudah ke universitas-universitas besar.

Proses Aplikasi Visa 189 dan 190 Setelah Lulus

Setelah lulus dari universitas Australia, mahasiswa Indonesia harus melalui beberapa tahapan untuk beralih dari visa pelajar ke visa migrasi terampil. Tahapan ini dimulai dengan Graduate Temporary Visa (subkelas 485) yang memberikan izin tinggal sementara selama 2-4 tahun (tergantung kualifikasi) untuk mencari pekerjaan dan mengumpulkan pengalaman kerja.

Untuk visa 189 dan 190, pemohon harus memenuhi points test yang mencakup:

  • Usia: 25-32 tahun (30 poin maksimal)
  • Kemampuan bahasa Inggris: IELTS 8,0 atau setara (20 poin)
  • Pengalaman kerja: 3-5 tahun (10 poin)
  • Pendidikan: Doktor (20 poin), Sarjana (15 poin)
  • Studi di Australia: Minimal 2 tahun (5 poin)
  • Kemampuan bahasa daerah: Bahasa Indonesia tidak diakui; bahasa daerah Australia seperti Aboriginal languages (5 poin)

Proses aplikasi dimulai dengan mengirim Expression of Interest (EOI) melalui SkillSelect system. Pada tahun 2026, sistem ini menggunakan algoritma prioritas yang mempertimbangkan skor poin, okupasi, dan tanggal EOI. Setelah diundang, pemohon memiliki 60 hari untuk mengajukan aplikasi lengkap.

Kesalahan umum yang dilakukan mahasiswa Indonesia: tidak memverifikasi skills assessment dari badan akreditasi terkait sebelum mengirim EOI, dan tidak mempersiapkan dokumen terjemahan untuk ijazah dari madrasah atau universitas Indonesia.

FAQ

Q1: Apa perbedaan utama antara visa 189 dan 190 dalam hal kewajiban tinggal?

Visa 189 tidak memiliki kewajiban tinggal di wilayah tertentu setelah disetujui. Pemohon dapat tinggal dan bekerja di mana saja di Australia. Visa 190 mewajibkan pemohon untuk tinggal di negara bagian atau teritori yang menominasikan selama minimal 2 tahun setelah visa disetujui. Pelanggaran kewajiban ini dapat mengakibatkan pembatalan visa. Data Department of Home Affairs 2026 menunjukkan bahwa 92% pemegang visa 190 memenuhi kewajiban ini.

Q2: Berapa skor minimum yang diperlukan untuk diundang ke visa 189 dan 190 pada tahun 2026?

Pada Maret 2026, skor minimum untuk diundang (Invitation to Apply) ke visa 189 adalah 85 poin untuk sebagian besar okupasi seperti teknik, teknologi informasi, dan kesehatan. Untuk visa 190, skor minimum adalah 80 poin karena nominasi negara bagian memberikan tambahan 5 poin otomatis. Namun, untuk okupasi dengan permintaan tinggi seperti perawat (registered nurse) dan guru sekolah menengah, skor minimum bisa lebih rendah, yaitu 75 poin untuk visa 189 dan 70 poin untuk visa 190.

Q3: Apakah lulusan madrasah aliyah (MA) bisa langsung mendaftar ke universitas Australia?

Ya, lulusan madrasah aliyah dapat mendaftar ke universitas Australia, namun perlu melalui proses verifikasi ijazah oleh Qualifications and Curriculum Authority Australia. Sebagian besar universitas mensyaratkan foundation program atau diploma pathway selama 8-12 bulan sebelum masuk ke program sarjana. Pada tahun 2026, University of Queensland dan Monash University menerima lulusan MA dengan nilai rata-rata 7,5 dari skala 10 pada mata pelajaran inti. Universitas-universitas di NSW dan VIC juga menerima sertifikat hafalan Al-Qur’an sebagai dokumen tambahan untuk program studi agama atau studi Timur Tengah.

参考资料

  • Department of Home Affairs, 2026, Skilled Migration Program Report 2025-2026
  • Universities Australia, 2026, International Student Data Summary 2026
  • LPDP, 2026, Laporan Tahunan Beasiswa Luar Negeri 2025
  • ICCC Australia, 2026, Annual Report on Indonesian Student Services 2025-2026
  • Australian Bureau of Statistics, 2026, Migration and Population Statistics 2025

Student campus

Student campus