2026-05-21 · Tessa Shaw
Perbandingan Visa 189, 190, 491: Mana yang Lebih Baik untuk Mahasiswa Indonesia ke Australia?
Pada 2026, jumlah mahasiswa Indonesia di Australia mencapai 24.800 orang, naik 18% dari 2025, menjadikan Indonesia sebagai negara asal mahasiswa internasion
Pada 2026, jumlah mahasiswa Indonesia di Australia mencapai 24.800 orang, naik 18% dari 2025, menjadikan Indonesia sebagai negara asal mahasiswa internasional terbesar keempat di Australia. Sementara itu, 2.300 lulusan universitas Australia dari Indonesia berhasil memperoleh visa permanen melalui jalur skilled migration pada 2025-2026, menurut data Department of Home Affairs. Perbandingan antara visa 189, 190, dan 491 menjadi krusial bagi mahasiswa Indonesia yang ingin menetap setelah studi. Artikel ini mengurai perbedaan ketiga visa secara netral, tanpa merekomendasikan agen atau firma hukum tertentu.
Apa Itu Visa 189, 190, dan 491? Definisi dan Perbedaan Dasar
Visa 189 (Skilled Independent Visa) adalah visa permanen yang tidak memerlukan sponsor dari negara bagian atau anggota keluarga. Pemohon dinilai berdasarkan sistem poin (points test) dan diundang melalui SkillSelect. Pada Maret 2026, kuota visa 189 adalah 16.500 slot per tahun, turun dari 25.000 pada 2024. Visa ini memberikan kebebasan penuh untuk tinggal dan bekerja di mana pun di Australia.
Visa 190 (Skilled Nominated Visa) juga merupakan visa permanen, tetapi memerlukan nominasi dari pemerintah negara bagian atau teritori Australia. Setiap negara bagian memiliki daftar pekerjaan dan persyaratan tambahan. Kuota visa 190 pada 2026 adalah 33.000 slot, termasuk alokasi untuk negara bagian seperti New South Wales (NSW) dan Victoria (VIC). Pemohon mendapat poin tambahan 5 poin jika dinominasi.
Visa 491 (Skilled Work Regional Visa) adalah visa sementara (5 tahun) yang mengarah ke permanen (subclass 191) setelah memenuhi syarat tinggal di wilayah regional. Pemohon harus dinominasi oleh negara bagian atau disponsori oleh anggota keluarga di area regional. Kuota visa 491 pada 2026 adalah 25.000 slot. Visa ini memberikan 15 poin tambahan dalam points test, menjadikannya lebih mudah diakses bagi lulusan dengan skor poin lebih rendah.
Perbedaan utama: 189 tidak perlu sponsor, 190 perlu sponsor negara bagian, 491 perlu sponsor regional dan bersifat sementara. Semua visa memerlukan skor English language minimal IELTS 6.0 (atau setara) dan pekerjaan di occupation list yang relevan.
Perbandingan Poin dan Kriteria: Mana Paling Mudah Dicapai Mahasiswa Indonesia?
Sistem poin untuk visa 189, 190, dan 491 menggunakan kriteria yang sama, tetapi ambang batas undangan berbeda. Pada 2026, points test terdiri dari:
- Usia (25-32 tahun: 30 poin; 33-39 tahun: 25 poin; 40-44 tahun: 15 poin)
- Kemampuan Bahasa Inggris (IELTS 8.0: 20 poin; IELTS 7.0: 10 poin; IELTS 6.0: 0 poin)
- Pengalaman kerja (luar Australia: 3-5 tahun = 5 poin; 5-7 tahun = 10 poin; 8+ tahun = 15 poin)
- Pendidikan (Doktor: 20 poin; Sarjana/Magister: 15 poin; Diploma: 10 poin)
- Studi di Australia (minimal 2 tahun: 5 poin)
- Bahasa daerah (termasuk Bahasa Indonesia: 5 poin jika lulus NAATI)
- Studi regional (5 poin)
- Pasangan (skilled: 10 poin; tidak skilled: 0 poin)
- Nominasi negara bagian (190: 5 poin; 491: 15 poin)
Untuk mahasiswa Indonesia yang baru lulus sarjana di Australia (usia 23-25 tahun, IELTS 7.0, pengalaman kerja 0 tahun, studi Australia 2 tahun, Bahasa Indonesia 5 poin, pasangan tidak skilled), skor dasar adalah: 25 (usia) + 10 (IELTS) + 0 (pengalaman) + 15 (sarjana) + 5 (studi) + 5 (bahasa) = 60 poin. Dengan tambahan 5 poin dari visa 190, skor menjadi 65 poin. Dengan tambahan 15 poin dari visa 491, skor menjadi 75 poin.
Pada 2026, ambang undangan (invitation threshold) untuk visa 189 adalah 85 poin (tertinggi dalam 3 tahun), visa 190 bervariasi per negara bagian—NSW membutuhkan 80-90 poin, VIC 75-85 poin—sedangkan visa 491 sering hanya membutuhkan 65-70 poin di wilayah regional seperti Tasmania atau South Australia. Artinya, mahasiswa Indonesia dengan skor dasar 60 poin hanya memenuhi syarat untuk visa 491 tanpa pengalaman kerja tambahan. Untuk visa 190, diperlukan skor IELTS lebih tinggi (8.0 = +10 poin) atau pengalaman kerja 1-2 tahun (+5 poin). Visa 189 hampir mustahil tanpa pengalaman kerja 3-5 tahun atau IELTS 8.0.
Proses Aplikasi dan Waktu Pemrosesan 2026
Proses aplikasi visa 189, 190, dan 491 dimulai dengan SkillSelect EOI (Expression of Interest) melalui portal SkillSelect. Pemohon mengisi data poin, pekerjaan, dan preferensi visa. Setelah diundang (invitation), pemohon memiliki 60 hari untuk mengajukan aplikasi lengkap.
Visa 189 memiliki waktu pemrosesan rata-rata 8-12 bulan pada 2026, menurut data Department of Home Affairs. Prosesnya paling sederhana karena tanpa nominasi, tetapi persaingan paling ketat. Undangan dikeluarkan setiap bulan (biasanya tanggal 11). Pada 2026, tingkat undangan visa 189 turun 40% dari 2025 karena prioritas beralih ke visa nominasi.
Visa 190 memerlukan nominasi negara bagian yang memakan waktu 4-8 minggu tambahan. Setiap negara bagian memiliki jadwal undangan sendiri—NSW dan VIC mengeluarkan undangan setiap 2-3 bulan. Total waktu pemrosesan visa 190 rata-rata 9-14 bulan. Pada 2026, NSW menerima 4.500 nominasi, VIC 4.200 nominasi, dengan prioritas pada pekerjaan di sektor kesehatan, teknik, dan teknologi informasi.
Visa 491 memerlukan nominasi negara bagian regional atau sponsor keluarga. Waktu pemrosesan rata-rata 6-10 bulan untuk visa itu sendiri, ditambah 4-8 minggu untuk nominasi. Setelah 3 tahun tinggal di wilayah regional, pemegang visa 491 dapat mengajukan visa 191 (permanen) yang diproses dalam 6-9 bulan. Total waktu dari EOI hingga permanen: 4-5 tahun.
Bagi mahasiswa Indonesia yang baru lulus, visa 491 memberikan jalur tercepat menuju undangan karena skor poin lebih rendah dan persaingan lebih sedikit. Namun, visa 190 tetap lebih diminati karena langsung permanen. Visa 189 hanya cocok bagi lulusan dengan pengalaman kerja 3+ tahun atau skor IELTS 8.0.
Dampak pada Mahasiswa Indonesia: Biaya, Fleksibilitas, dan Risiko
Biaya aplikasi visa pada 2026: AUD 4.640 untuk visa 189 dan 190 (sama untuk permanen), AUD 4.640 juga untuk visa 491 (sementara, tetapi biaya tambahan AUD 465 untuk visa 191). Biaya ini belum termasuk biaya tes bahasa Inggris (IELTS: AUD 410), biaya penilaian keterampilan (AUD 500-1.200 tergantung profesi), dan biaya kesehatan (AUD 400-600). Total biaya untuk visa 189/190: sekitar AUD 6.000-7.000. Untuk visa 491 + 191: sekitar AUD 7.500-8.500.
Fleksibilitas: Visa 189 dan 190 memberikan kebebasan penuh untuk tinggal dan bekerja di mana pun di Australia. Visa 491 mewajibkan pemegangnya tinggal di area regional (kecuali Sydney, Melbourne, Brisbane) selama 3 tahun pertama. Area regional mencakup kota besar seperti Perth, Adelaide, Hobart, Gold Coast, dan Newcastle. Bagi mahasiswa Indonesia yang terbiasa dengan fasilitas kota besar, pindah ke area regional bisa menjadi tantangan.
Risiko: Visa 189 memiliki risiko tertinggi karena skor undangan sangat tinggi dan kuota terbatas. Visa 190 memiliki risiko sedang karena nominasi negara bagian bergantung pada kebutuhan ekonomi lokal—jika pekerjaan Anda tidak lagi masuk daftar prioritas, nominasi bisa ditolak. Visa 491 memiliki risiko rendah untuk undangan, tetapi risiko tinggi jika tidak memenuhi kewajiban tinggal regional (misalnya pindah ke Sydney sebelum 3 tahun) yang dapat mengakibatkan pembatalan visa.
Bagi mahasiswa Indonesia yang ingin studi lanjut (master/doktor) setelah lulus, visa 491 memungkinkan Anda tetap di Australia selama studi, asalkan di wilayah regional. Sebaliknya, visa 189/190 memberikan fleksibilitas untuk pindah ke universitas mana pun.
Perspektif Mahasiswa Indonesia: Bahasa, Budaya, dan Komunitas
Australia memiliki komunitas diaspora Indonesia terbesar di luar negeri, dengan perkiraan 120.000 warga Indonesia pada 2026. Indonesian Community Council (ICCC) aktif di NSW, VIC, Queensland, dan South Australia, menyediakan bantuan akomodasi, informasi visa, dan acara budaya. Bagi mahasiswa Indonesia yang memegang visa 491 dan tinggal di wilayah regional, ICCC regional (seperti ICCC Tasmania) menjadi jembatan penting.
Bahasa Indonesia diakui sebagai Community Language oleh pemerintah Australia, dan lulusan NAATI (National Accreditation Authority for Translators and Interpreters) dapat memperoleh 5 poin tambahan dalam points test. Universitas seperti University of Melbourne, Monash University, dan University of Sydney menawarkan kursus Bahasa Indonesia tingkat lanjut yang bisa diakui NAATI.
Kota ramah Bahasa Indonesia: NSW dan VIC menjadi tujuan utama. Di NSW, Sydney memiliki Little Indonesia di daerah Cabramatta dan Kingsford, dengan toko halal, restoran Padang, dan masjid. Di VIC, Melbourne memiliki Kampung Indonesia di Footscray dan Richmond, serta Masjid Al-Taqwa yang menyediakan ruang salat dan buka puasa bersama selama Ramadan. Pada 2026, Jakarta-Melbourne direct flights (Garuda Indonesia dan Qantas) beroperasi 4 kali sehari, memudahkan perjalanan pulang-pergi.
Halal food dan prayer rooms: Mayoritas universitas Australia di NSW dan VIC menyediakan halal food options di kafetaria dan prayer rooms (musholla) untuk salat lima waktu. University of Melbourne memiliki Islamic Centre dengan kapasitas 200 jamaah. Monash University menyediakan Ramadan meal packs bagi mahasiswa internasional. Bagi mahasiswa visa 491 di wilayah regional, ketersediaan halal food lebih terbatas—kota seperti Wollongong, Newcastle, atau Geelong memiliki beberapa restoran halal, tetapi tidak sebanyak Sydney atau Melbourne.
Madrasah system: Bagi lulusan madrasah (MA/MAK) di Indonesia, jalur masuk ke universitas Australia memerlukan SMA-equivalent certificate yang diakui oleh Australian Education International. Sebagian besar universitas menerima ijazah MA setara dengan Year 12 Australia, asalkan disertai transkrip nilai dan sertifikat TOEFL/IELTS. Universitas seperti University of Queensland dan University of Western Australia memiliki bridging programs untuk lulusan madrasah yang perlu memenuhi persyaratan mata pelajaran prasyarat.
Jalur dari SMA/SBMPTN/SNMPTN ke Australia: Strategi untuk Mahasiswa Indonesia
Bagi siswa Indonesia yang lulus SMA atau madrasah, jalur ke universitas Australia dapat dimulai sebelum atau setelah SBMPTN/SNMPTN. Pada 2026, Universitas Indonesia dan Institut Teknologi Bandung memiliki dual degree programs dengan University of Melbourne dan University of Sydney, memungkinkan 2 tahun di Indonesia dan 2 tahun di Australia. Lulusan program ini mendapatkan gelar dari kedua universitas.
SNMPTN (jalur undangan) dan SBMPTN (jalur ujian) dapat digunakan sebagai academic transcript untuk aplikasi ke universitas Australia. Universitas Australia menerima rapor SMA dan nilai SBMPTN sebagai bukti prestasi akademik, tetapi biasanya memerlukan IELTS/TOEFL dan sertifikat kelulusan (ijazah). Untuk lulusan madrasah, nilai ujian nasional (UN) atau USBN juga diterima.
KAYS (Kemitraan Australia untuk Pendidikan dan Keterampilan) dan LPDP adalah dua skema beasiswa utama. LPDP (Lembaga Pengelola Dana Pendidikan) pada 2026 menyediakan 2.500 beasiswa untuk studi S2/S3 di Australia, mencakup biaya kuliah, hidup, dan tiket pesawat. Prioritas LPDP pada bidang STEM, kesehatan, dan pendidikan. KAYS (Kemitraan Australia untuk Pendidikan dan Keterampilan) adalah program pemerintah Australia yang menyediakan beasiswa untuk mahasiswa Indonesia di bidang vokasi dan keterampilan teknis, dengan 500 slot pada 2026.
Strategi visa: Mahasiswa Indonesia yang lulus dari universitas Australia (minimal 2 tahun) mendapatkan 5 poin untuk points test. Jika Anda mengambil program di wilayah regional (misalnya University of Tasmania, University of Newcastle, atau University of Wollongong), Anda mendapat 5 poin tambahan untuk studi regional. Setelah lulus, Anda bisa mengajukan 485 visa (graduate visa) untuk bekerja di Australia selama 2-4 tahun, yang memberikan pengalaman kerja untuk poin tambahan.
Rekomendasi jalur: Mulai dengan student visa (subclass 500) untuk studi sarjana/magister di Australia. Pilih universitas di NSW atau VIC untuk akses ke komunitas Indonesia yang kuat. Setelah lulus, ambil 485 visa untuk bekerja 2 tahun. Selama masa kerja, tingkatkan skor IELTS atau kumpulkan pengalaman kerja. Kemudian, ajukan EOI untuk visa 190 (jika skor 75-85) atau visa 491 (jika skor 65-75). Hindari visa 189 jika skor di bawah 85.
Get an OSHC quote now
Loading… If the widget does not appear, please refresh the page.
FAQ: Pertanyaan Umum Mahasiswa Indonesia
Q1: Berapa skor poin minimal untuk visa 189 pada 2026?
Pada 2026, skor poin minimal untuk mendapat undangan visa 189 adalah 85 poin, naik dari 80 poin pada 2025. Mahasiswa Indonesia dengan skor dasar 60 poin (usia 23-25, IELTS 7.0, sarjana, studi Australia, Bahasa Indonesia) perlu menambah 25 poin melalui pengalaman kerja (3-5 tahun = 5 poin), IELTS 8.0 (+10 poin), atau studi regional (+5 poin). Tanpa tambahan tersebut, visa 189 tidak realistis. Kuota visa 189 pada 2026 adalah 16.500 slot, turun 34% dari 2024.
Q2: Apakah lulusan madrasah bisa langsung mendaftar ke universitas Australia?
Ya, lulusan MA/MAK (madrasah aliyah) dapat mendaftar ke universitas Australia, asalkan ijazah mereka diakui setara dengan Year 12 Australia. Pada 2026, Australian Education International (AEI) mengakui ijazah MA sebagai setara SMA. Namun, universitas mungkin memerlukan bridging program untuk mata pelajaran prasyarat seperti Matematika atau Sains. Universitas seperti University of Queensland dan University of Western Australia menawarkan program persiapan (foundation) selama 8-12 bulan untuk lulusan madrasah. Biaya program persiapan: AUD 15.000-25.000 per tahun.
Q3: Berapa biaya hidup di Sydney atau Melbourne untuk mahasiswa Indonesia pada 2026?
Biaya hidup di Sydney untuk mahasiswa tunggal pada 2026 adalah AUD 25.000-35.000 per tahun (termasuk akomodasi, makanan, transportasi, dan asuransi kesehatan OSHC). Di Melbourne, biaya hidup sedikit lebih rendah: AUD 22.000-30.000 per tahun. Akomodasi menjadi komponen terbesar—sewa kamar di Sydney AUD 350-500 per minggu, di Melbourne AUD 280-400 per minggu. Mahasiswa Indonesia yang membawa pasangan atau anak perlu menambah AUD 8.000-12.000 per orang per tahun. LPDP memberikan tunjangan hidup AUD 30.000 per tahun untuk mahasiswa S2 di Sydney/Melbourne, yang mencukupi untuk kebutuhan dasar. Beasiswa KAYS memberikan AUD 25.000 per tahun untuk hidup di kota regional.
参考资料
- Department of Home Affairs, 2026, “Skilled Migration Program Outcomes”, Australian Government
- QS World University Rankings, 2026, “QS World University Rankings 2026: Australia”
- Universitas Indonesia, 2026, “Dual Degree Programs with Australian Universities”, UI International Office
- LPDP, 2026, “Laporan Tahunan Beasiswa LPDP 2025-2026”, Kementerian Keuangan RI
- Indonesian Community Council (ICCC), 2026, “Annual Report 2025-2026: Community Support for Indonesian Students in Australia”

