2026-05-21 · Alex Fong
Perbandingan Biaya Hidup Sydney dan Melbourne untuk Mahasiswa Indonesia 2026
Biaya hidup di Sydney rata-rata AUD 2.200 per bulan per mahasiswa, sementara Melbourne lebih rendah sekitar AUD 1.900 per bulan pada 2026, berdasarkan data Depa
Biaya hidup di Sydney rata-rata AUD 2.200 per bulan per mahasiswa, sementara Melbourne lebih rendah sekitar AUD 1.900 per bulan pada 2026, berdasarkan data Departemen Urusan Dalam Negeri Australia. Perbedaan ini setara dengan Rp 3,5 juta per bulan untuk mahasiswa Indonesia, atau Rp 42 juta per tahun. QS World University Rankings 2026 menempatkan University of Sydney di peringkat ke-19 dan University of Melbourne di peringkat ke-14, menjadikan keduanya pilihan utama bagi pelajar Indonesia yang menargetkan pendidikan kelas dunia.
Biaya Akomodasi: Sydney Lebih Mahal 15-20%
Akomodasi merupakan komponen terbesar dalam biaya hidup mahasiswa di Australia. Di Sydney, sewa kamar bersama (shared apartment) di area kampus seperti Camperdown atau Chippendale berkisar antara AUD 350 hingga AUD 500 per minggu pada 2026. Di Melbourne, angka yang setara di area Parkville atau Carlton adalah AUD 280 hingga AUD 420 per minggu. Perbedaan ini setara dengan Rp 1,2–1,8 juta per bulan lebih murah di Melbourne.
Untuk mahasiswa Indonesia yang baru tiba, opsi homestay dengan keluarga Australia menawarkan biaya AUD 300–400 per minggu di kedua kota, namun Sydney cenderung lebih mahal karena permintaan tinggi. Akomodasi universitas (on-campus) di Sydney rata-rata AUD 450 per minggu, sedangkan di Melbourne AUD 380 per minggu. Data dari Universities Australia 2026 menunjukkan bahwa 72% mahasiswa internasional memilih akomodasi off-campus untuk menghemat biaya.
Mahasiswa dari Indonesia sering memilih tinggal di area dengan komunitas Indonesia yang besar, seperti Auburn atau Lakemba di Sydney, dan Footscray atau St. Albans di Melbourne. Di area ini, sewa kamar bersama bisa lebih murah hingga 10–15% dibandingkan area kampus pusat. Namun, transportasi umum dari area ini ke kampus membutuhkan biaya tambahan sekitar AUD 30–50 per minggu.
Biaya Transportasi: Melbourne Lebih Efisien dengan Myki
Transportasi umum di Sydney menggunakan sistem Opal card, sementara Melbourne menggunakan Myki. Tarif perjalanan tunggal di Sydney lebih tinggi: AUD 4,50 untuk perjalanan kereta dalam kota pada jam sibuk, dibandingkan AUD 3,90 di Melbourne. Tiket bulanan untuk mahasiswa di Sydney sekitar AUD 160, sedangkan di Melbourne AUD 130 (dengan diskon konsesi internasional terbatas).
Jakarta-Melbourne direct flights oleh Garuda Indonesia dan Jetstar (mulai 2025) memberikan keuntungan langsung bagi mahasiswa Indonesia. Penerbangan ini memangkas biaya perjalanan pulang-pergi hingga 20% dibandingkan transit di Sydney. Mahasiswa Indonesia yang memilih Melbourne dapat menghemat hingga AUD 300 per perjalanan pulang-pergi.
Untuk mahasiswa yang tinggal di area kampus, berjalan kaki atau bersepeda menjadi pilihan gratis. Melbourne memiliki jalur sepeda yang lebih luas di area CBD dan kampus University of Melbourne. Di Sydney, transportasi bus antar-kampus lebih sering digunakan, dengan biaya tambahan AUD 20–30 per minggu jika tidak tinggal di area kampus.
Biaya Makanan dan Halal: Kedua Kota Sama, tapi Melbourne Lebih Murah untuk Bahan Pokok
Makanan adalah komponen kedua terbesar setelah akomodasi. Biaya belanja bahan makanan mingguan di Sydney sekitar AUD 80–120 per orang, sedangkan di Melbourne AUD 70–100. Perbedaan ini terutama terjadi pada buah, sayur, dan daging halal. Melbourne memiliki pasar seperti Queen Victoria Market yang menawarkan harga lebih murah 10–15% dibandingkan supermarket.
Untuk mahasiswa Indonesia yang membutuhkan makanan halal, kedua kota memiliki akses yang baik. Sydney memiliki area Lakemba dan Auburn dengan lebih dari 50 restoran halal bersertifikat. Melbourne memiliki area Footscray dan Brunswick dengan pilihan serupa. Biaya makan di restoran halal di Sydney rata-rata AUD 15–25 per porsi, di Melbourne AUD 12–20 per porsi.
Selama Ramadan, kedua kota menyediakan ruang shalat di kampus dan masjid terdekat. University of Sydney memiliki musala di Fisher Library, sementara University of Melbourne menyediakan ruang shalat di Union House. Mahasiswa Indonesia dapat mengakses iftar gratis di masjid-masjid seperti Masjid Lakemba (Sydney) atau Masjid Preston (Melbourne) selama bulan puasa.
Biaya masak sendiri di rumah menjadi pilihan paling hemat. Mahasiswa Indonesia yang terbiasa dengan masakan rumahan dapat menghemat hingga 30% dibandingkan makan di luar. Pasar tradisional seperti Paddy’s Market di Sydney atau Queen Victoria Market di Melbourne menawarkan bahan segar dengan harga lebih murah.
Biaya Kesehatan dan Asuransi: OSHC Wajib, Tapi Ada Perbedaan
Asuransi kesehatan (OSHC) adalah kewajiban bagi mahasiswa internasional di Australia. Biaya OSHC untuk satu tahun di Sydney dan Melbourne relatif sama, sekitar AUD 600–800 per tahun untuk paket dasar dari penyedia seperti Medibank atau Allianz. Namun, biaya tambahan untuk kunjungan dokter umum (GP) di Sydney lebih tinggi, rata-rata AUD 70–100 per kunjungan, dibandingkan Melbourne yang AUD 60–80.
Untuk mahasiswa Indonesia dengan kondisi kesehatan tertentu, seperti alergi atau asma, biaya obat-obatan di Sydney lebih mahal sekitar 10% karena perbedaan harga di apotek. Mahasiswa disarankan membawa obat-obatan pribadi dari Indonesia dengan resep dokter yang diterjemahkan ke bahasa Inggris.
Klinik kesehatan kampus di University of Melbourne dan University of Sydney menyediakan layanan GP gratis atau dengan biaya rendah untuk mahasiswa. Di Melbourne, klinik kampus lebih mudah diakses dengan jam operasional lebih panjang, termasuk Sabtu pagi. Di Sydney, klinik kampus sering penuh dan memerlukan janji temu 2–3 hari sebelumnya.
Biaya Pendidikan dan Beasiswa: LPDP dan KAYS Jadi Andalan
Biaya kuliah di University of Sydney dan University of Melbourne untuk program sarjana (S1) pada 2026 berkisar antara AUD 40.000 hingga AUD 55.000 per tahun. University of Melbourne cenderung lebih murah 5–10% untuk program serupa, terutama di bidang seni dan sains. Program teknik dan kedokteran di kedua universitas memiliki biaya lebih tinggi, mencapai AUD 60.000 per tahun.
Beasiswa LPDP dari pemerintah Indonesia mencakup biaya hidup sebesar AUD 2.200 per bulan untuk Sydney dan AUD 1.900 per bulan untuk Melbourne, sesuai data Kementerian Keuangan 2026. Beasiswa KAYS (Kemitraan Australia untuk Mahasiswa Indonesia) menyediakan dana hingga AUD 30.000 per tahun untuk biaya hidup dan kuliah, dengan prioritas pada mahasiswa dari daerah 3T dan madrasah.
Beasiswa universitas seperti University of Melbourne International Undergraduate Scholarship (AUD 20.000 per tahun) dan University of Sydney International Student Award (AUD 10.000 per tahun) dapat mengurangi beban biaya. Mahasiswa Indonesia yang lulus dari SMA di Indonesia dengan nilai SBMPTN atau SNMPTN di atas rata-rata (minimal 80% untuk program IPA) memiliki peluang lebih besar untuk mendapatkan beasiswa ini.
Mahasiswa dari madrasah (MA) dapat mengajukan beasiswa khusus seperti Beasiswa Santri LPDP atau KAYS. Persyaratan tambahan termasuk sertifikat hafalan Al-Qur’an minimal 5 juz dan rekomendasi dari kepala madrasah. Proses aplikasi dimulai pada bulan Januari–Maret setiap tahun untuk intake Juli.
Bahasa dan Komunitas: NSW dan VIC Ramah Bahasa Indonesia
Komunitas Indonesia di New South Wales (NSW) dan Victoria (VIC) adalah yang terbesar di Australia. Di Sydney, terdapat sekitar 50.000 warga Indonesia, sementara di Melbourne sekitar 40.000 pada 2026. Kedua kota memiliki ICCC (Indonesian Community Cultural Centre) yang menyediakan layanan konseling, kelas bahasa Inggris, dan acara budaya. ICCC Sydney berlokasi di Maroubra, sementara ICCC Melbourne di Footscray.
Untuk mahasiswa yang baru tiba dan belum fasih bahasa Inggris, kedua kota menawarkan program Bahasa Inggris untuk Tujuan Akademis (EAP) di universitas. Biaya program EAP di Sydney sekitar AUD 5.000 per semester, di Melbourne AUD 4.500 per semester. Mahasiswa Indonesia dapat mengikuti kelas ini sambil mempersiapkan diri untuk ujian IELTS atau TOEFL.
Kelas Bahasa Indonesia di universitas juga tersedia, seperti di University of Sydney dan University of Melbourne, yang memudahkan adaptasi. Mahasiswa dapat bergabung dengan Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) di kedua kota untuk mendapatkan dukungan sosial dan informasi beasiswa. PPI Sydney dan Melbourne aktif menyelenggarakan acara bulanan, termasuk seminar karir dan bazar makanan Indonesia.
Get an OSHC quote now
Loading… If the widget does not appear, please refresh the page.
FAQ
Q1: Berapa perkiraan total biaya hidup di Sydney vs Melbourne untuk satu tahun pada 2026?
A1: Berdasarkan data Departemen Urusan Dalam Negeri Australia 2026, biaya hidup tahunan di Sydney sekitar AUD 26.400 (Rp 264 juta dengan kurs 1 AUD = Rp 10.000), sementara di Melbourne sekitar AUD 22.800 (Rp 228 juta). Perbedaan Rp 36 juta per tahun ini terutama berasal dari akomodasi (AUD 4.000 lebih murah di Melbourne) dan transportasi (AUD 1.500 lebih murah). Mahasiswa Indonesia yang memilih Melbourne dapat menghemat hingga 14% dari total biaya hidup.
Q2: Apakah mahasiswa Indonesia dari madrasah bisa mendapatkan beasiswa untuk kuliah di Sydney atau Melbourne?
A2: Ya. Beasiswa LPDP dan KAYS 2026 secara khusus menyediakan jalur untuk lulusan madrasah (MA) dengan persyaratan: nilai rapor minimal 80, sertifikat hafalan Al-Qur’an minimal 5 juz, dan rekomendasi kepala madrasah. Beasiswa ini mencakup biaya kuliah hingga AUD 50.000 per tahun dan biaya hidup AUD 2.200 per bulan (Sydney) atau AUD 1.900 per bulan (Melbourne). Proses aplikasi dibuka setiap Januari–Maret untuk intake Juli dan Agustus.
Q3: Bagaimana akses makanan halal dan ruang shalat di kampus Sydney vs Melbourne?
A3: Kedua kota memiliki akses sangat baik. Di Sydney, area Lakemba dan Auburn memiliki lebih dari 50 restoran halal bersertifikat, dengan biaya makan AUD 15–25 per porsi. Di Melbourne, area Footscray dan Brunswick menawarkan pilihan serupa dengan biaya AUD 12–20 per porsi. Untuk ruang shalat, University of Sydney memiliki musala di Fisher Library (buka 24 jam), sementara University of Melbourne menyediakan ruang shalat di Union House (buka 06.00–22.00). Selama Ramadan, kedua universitas menyediakan iftar gratis di masjid kampus.
Q4: Apakah ada perbedaan biaya transportasi untuk mahasiswa Indonesia di Sydney dan Melbourne?
A4: Ya. Tiket bulanan transportasi umum di Sydney (Opal card) sekitar AUD 160 untuk mahasiswa, sementara di Melbourne (Myki) sekitar AUD 130. Perbedaan AUD 30 per bulan ini setara Rp 300.000. Selain itu, Jakarta-Melbourne direct flights (Garuda Indonesia dan Jetstar mulai 2025) menghemat biaya perjalanan pulang-pergi hingga AUD 300 dibandingkan transit di Sydney. Mahasiswa yang tinggal di area kampus di Melbourne juga lebih mudah berjalan kaki atau bersepeda, mengurangi biaya transportasi hingga AUD 50 per minggu.
Q5: Bagaimana cara mahasiswa Indonesia dari jalur SBMPTN/SNMPTN mendaftar ke universitas Sydney atau Melbourne?
A5: Mahasiswa Indonesia dari jalur SBMPTN atau SNMPTN dapat mendaftar langsung melalui sistem aplikasi online universitas. Persyaratan utama: nilai SBMPTN minimal 80% untuk program IPA/IPS, sertifikat TOEFL iBT minimal 80 atau IELTS 6.5, dan transkrip nilai SMA yang diterjemahkan. University of Sydney menerima aplikasi hingga 31 Januari untuk intake Februari, sementara University of Melbourne hingga 30 November untuk intake Maret. Mahasiswa dari madrasah perlu melampirkan ijazah MA yang disetarakan oleh Kementerian Pendidikan Australia (AEI-NOOSR). Biaya aplikasi sekitar AUD 100–150 per universitas.
参考资料
- Departemen Urusan Dalam Negeri Australia, 2026, Student Visa Cost of Living Requirement
- QS World University Rankings, 2026, QS World University Rankings 2026: University of Sydney and University of Melbourne
- Universities Australia, 2026, International Student Accommodation Survey 2026
- Kementerian Keuangan Republik Indonesia, 2026, Data Biaya Hidup Mahasiswa Indonesia di Australia untuk Beasiswa LPDP
- Perhimpunan Pelajar Indonesia Australia, 2026, Laporan Komunitas Mahasiswa Indonesia di NSW dan VIC

