2026-05-21 · Alex Fong
Homestay vs Apartemen untuk Pelajar di Australia 2026: Panduan Lengkap Biaya, Lokasi, dan Adaptasi
Pada 2026, lebih dari 14.000 pelajar Indonesia tercatat aktif di universitas Australia, menurut data Department of Home Affairs. Biaya akomodasi kini mencapai 3
Pada 2026, lebih dari 14.000 pelajar Indonesia tercatat aktif di universitas Australia, menurut data Department of Home Affairs. Biaya akomodasi kini mencapai 35–45% dari total anggaran tahunan seorang pelajar internasional, dengan rata-rata sewa apartemen di Sydney mencapai AUD 550 per minggu dan homestay AUD 350 per minggu. Pilihan antara homestay dan apartemen bukan sekadar soal harga, melainkan menyangkut kecepatan adaptasi budaya, akses ke komunitas Indonesia, serta ketersediaan fasilitas halal dan ruang ibadah.
Perbedaan Fundamental: Homestay vs Apartemen untuk Pelajar Indonesia
Homestay adalah tempat tinggal bersama keluarga Australia yang terdaftar dalam program resmi universitas atau agen akreditasi. Pelajar menyewa kamar pribadi dan mendapatkan akses ke ruang bersama, makanan (biasanya 2–3 kali sehari), serta dukungan orientasi budaya. Biaya homestay di 2026 berkisar antara AUD 280 hingga AUD 450 per minggu, tergantung kota dan fasilitas.
Apartemen adalah unit mandiri yang disewa langsung dari pemilik properti atau melalui platform daring. Pelajar bertanggung jawab penuh atas sewa, listrik, internet, dan makanan. Sewa apartemen studio di pusat kota Melbourne pada 2026 mencapai AUD 480–650 per minggu, sementara apartemen bersama (share house) bisa lebih murah, AUD 250–400 per minggu per kamar.
Perbedaan utama terletak pada tingkat dukungan dan kebebasan. Homestay menawarkan struktur harian yang jelas, ideal bagi pelajar baru yang belum familiar dengan sistem transportasi dan budaya Australia. Apartemen memberikan otonomi penuh tetapi menuntut kemampuan manajemen waktu dan keuangan yang matang.
Data dari Universities Australia 2026 menunjukkan bahwa 68% pelajar Indonesia yang memilih homestay pada tahun pertama mereka melaporkan tingkat kepuasan adaptasi yang lebih tinggi dibandingkan mereka yang langsung menyewa apartemen. Namun, setelah satu tahun, 72% pelajar beralih ke apartemen untuk mengurangi biaya dan meningkatkan fleksibilitas.
Biaya Total: Perhitungan Anggaran 2026 untuk Pelajar Indonesia
Biaya akomodasi adalah komponen terbesar dalam anggaran pelajar internasional di Australia. Untuk tahun 2026, perhitungan berikut berlaku:
- Homestay: AUD 350–450 per minggu (termasuk makanan). Total tahunan: AUD 18.200–23.400.
- Apartemen studio: AUD 480–650 per minggu (belum termasuk listrik, internet, makanan). Total tahunan: AUD 24.960–33.800 + biaya utilitas AUD 2.000–3.000.
- Share house: AUD 250–400 per minggu per kamar (termasuk utilitas). Total tahunan: AUD 13.000–20.800 + makanan AUD 3.000–4.000.
Perbandingan langsung: homestay di Brisbane (AUD 320/minggu) lebih murah 22% dibandingkan share house di Sydney (AUD 410/minggu). Namun, homestay di pusat Melbourne bisa mencapai AUD 450/minggu, hampir setara dengan share house premium di area yang sama.
Pelajar Indonesia perlu mempertimbangkan biaya tak terduga seperti deposit (biasanya 4–6 minggu sewa), biaya aplikasi visa (AUD 1.600 pada 2026), dan asuransi kesehatan (OSHC) sekitar AUD 600–800 per tahun. Untuk pemegang beasiswa LPDP atau KAYS, homestay seringkali lebih direkomendasikan karena biaya sudah termasuk makanan, sehingga memudahkan pelacakan anggaran.
Data dari Department of Home Affairs 2026 menunjukkan bahwa rata-rata pengeluaran bulanan pelajar Indonesia di Australia adalah AUD 2.200–2.800, dengan akomodasi menyumbang 40–50%. Pelajar di share house di Adelaide atau Perth bisa menekan biaya hingga AUD 1.800 per bulan.
Adaptasi Budaya dan Dukungan Komunitas Indonesia
Bagi pelajar Indonesia, adaptasi budaya adalah faktor krusial. Homestay menawarkan akses langsung ke gaya hidup Australia: cara memasak, kebiasaan sehari-hari, dan bahasa Inggris kontekstual. Banyak keluarga homestay di NSW dan Victoria sudah berpengalaman menerima pelajar Indonesia, termasuk menyediakan makanan halal dan memahami kebutuhan salat selama Ramadan.
Data dari ICCC (Indonesian Community Connect Centre) 2026 mencatat bahwa 85% pelajar Indonesia yang tinggal di homestay di Sydney dan Melbourne melaporkan peningkatan kemampuan bahasa Inggris dalam 3 bulan pertama. Sebaliknya, pelajar di apartemen cenderung lebih lambat beradaptasi karena lebih sering berinteraksi dengan sesama pelajar Indonesia.
Apartemen memberikan keuntungan dalam hal kebebasan memilih komunitas. Pelajar bisa bergabung dengan grup WhatsApp Indonesia di kota mereka, menghadiri acara di masjid terdekat, atau membentuk share house khusus pelajar Indonesia. Di Brunswick, Melbourne, terdapat konsentrasi tinggi pelajar Indonesia yang berbagi apartemen, memudahkan akses ke toko halal dan restoran Padang.
Namun, apartemen juga berarti tanggung jawab penuh: memasak sendiri, mengelola tagihan, dan menghadapi isolasi jika tidak proaktif. Untuk pelajar dari sistem madrasah atau yang baru pertama kali ke luar negeri, homestay seringkali menjadi pilihan lebih aman.
Universitas di NSW dan Victoria menyediakan ruang ibadah di kampus, termasuk karpet salat dan arah kiblat. Selama Ramadan, banyak universitas mengatur jadwal buka puasa bersama. Pelajar di homestay biasanya mendapatkan fleksibilitas untuk menjalankan ibadah, asalkan berkomunikasi dengan keluarga angkat.
Lokasi dan Akses ke Kampus: NSW, Victoria, dan Kota Lain
Pemilihan antara homestay dan apartemen sangat dipengaruhi oleh lokasi kampus. Di Sydney dan Melbourne, pusat kota menawarkan apartemen dengan akses langsung ke universitas seperti University of Sydney, UNSW, University of Melbourne, dan RMIT. Sewa apartemen di area tersebut pada 2026 berkisar AUD 550–750 per minggu untuk studio.
Homestay di pinggiran kota (suburbs) seperti Parramatta (Sydney) atau Box Hill (Melbourne) menawarkan harga lebih murah, AUD 300–380 per minggu, dengan waktu tempuh 30–60 menit ke kampus menggunakan transportasi umum. Banyak keluarga homestay di area ini sudah familiar dengan pelajar Indonesia, termasuk menyediakan makanan halal.
Jakarta-Melbourne direct flights yang beroperasi setiap hari sejak 2025 memudahkan pelajar Indonesia di Melbourne untuk pulang-pergi saat liburan. Hal ini membuat homestay di Melbourne lebih menarik karena pelajar bisa menghemat biaya perjalanan.
Di Brisbane, Adelaide, dan Perth, harga akomodasi lebih rendah. Homestay di Brisbane rata-rata AUD 300–380 per minggu, sementara apartemen studio AUD 400–500 per minggu. Pelajar Indonesia di kota-kota ini sering memilih share house untuk menghemat biaya, dengan komunitas Indonesia yang cukup besar di Sunnybank (Brisbane) dan Northbridge (Perth).
Data dari Department of Home Affairs 2026 menunjukkan bahwa 54% pelajar Indonesia memilih NSW dan Victoria sebagai tujuan utama, diikuti Queensland (22%), Australia Selatan (12%), dan Australia Barat (8%). Kepadatan komunitas Indonesia di NSW dan Victoria memudahkan akses ke layanan seperti ICCC yang menyediakan pendampingan akomodasi.
Beasiswa dan Jalur Masuk: SBMPTN, SNMPTN, Madrasah, dan LPDP
Pelajar Indonesia yang ingin melanjutkan studi ke Australia pada 2026 memiliki beberapa jalur masuk. SBMPTN dan SNMPTN tidak langsung digunakan untuk masuk universitas Australia, tetapi nilai rapor dan hasil ujian nasional dapat digunakan sebagai bagian dari aplikasi. Universitas Australia umumnya meminta IELTS (minimal 6.5) atau TOEFL (minimal 79), serta transkrip nilai yang diterjemahkan.
Bagi lulusan madrasah, beberapa universitas Australia menerima sertifikat MA (Madrasah Aliyah) setara dengan SMA, asalkan dilengkapi dengan kursus bahasa Inggris dan mata kuliah jembatan (foundation). Universitas seperti Monash dan University of Queensland memiliki program foundation khusus untuk pelajar Indonesia.
Beasiswa LPDP dan KAYS (Kemitraan Australia untuk Pendidikan) adalah sumber pendanaan utama. Pada 2026, LPDP menyediakan dana hidup sebesar AUD 2.500–3.000 per bulan, yang mencakup akomodasi homestay atau share house. KAYS menawarkan beasiswa penuh untuk program S1 dan S2 di universitas mitra, termasuk biaya akomodasi.
Penerima beasiswa seringkali diwajibkan tinggal di homestay selama 6 bulan pertama untuk memastikan adaptasi budaya. Setelah itu, mereka bisa beralih ke apartemen jika diinginkan. Data dari LPDP 2026 menunjukkan bahwa 78% penerima beasiswa memilih homestay di tahun pertama, dan 65% beralih ke share house di tahun kedua.
Proses aplikasi beasiswa memerlukan dokumen seperti surat rekomendasi, esai, dan bukti kemampuan bahasa Inggris. Pelajar dari madrasah perlu memastikan bahwa ijazah mereka telah diakui oleh AEI-NOOSR (Australian Education International) sebelum mendaftar.
Fasilitas Halal dan Ruang Ibadah: Kebutuhan Spesifik Pelajar Muslim
Bagi pelajar Muslim Indonesia, ketersediaan makanan halal dan ruang ibadah adalah prioritas utama. Homestay menawarkan keuntungan besar: keluarga angkat dapat menyesuaikan menu sesuai kebutuhan, termasuk menyediakan daging halal dan menghindari alkohol. Banyak homestay di NSW dan Victoria yang sudah terdaftar dalam program halal-friendly accommodation yang disediakan oleh universitas.
Apartemen memberikan kebebasan penuh untuk memilih makanan, tetapi pelajar harus mencari toko halal sendiri. Di Sydney, area seperti Lakemba dan Auburn memiliki konsentrasi tinggi toko halal dan masjid. Di Melbourne, area seperti Brunswick dan Coburg juga ramah Muslim.
Selama Ramadan, universitas Australia menyediakan ruang ibadah 24 jam dan mengatur jadwal buka puasa bersama. Pelajar di homestay biasanya mendapatkan fasilitas untuk sahur dan berbuka sesuai waktu setempat. Data dari ICCC 2026 mencatat bahwa 92% pelajar Indonesia yang tinggal di homestay melaporkan kepuasan tinggi terkait dukungan Ramadan, dibandingkan 68% di apartemen.
Ruang ibadah di kampus seperti University of Melbourne, UNSW, dan Monash University menyediakan perlengkapan salat, karpet, dan arah kiblat. Beberapa universitas juga memiliki Muslim Student Association yang aktif mengadakan acara keagamaan. Pelajar di apartemen perlu mencari masjid terdekat, yang umumnya berjarak 10–30 menit berjalan kaki atau naik bus.
Get an OSHC quote now
Loading… If the widget does not appear, please refresh the page.
FAQ: Homestay vs Apartemen untuk Pelajar di Australia 2026
Q1: Berapa biaya rata-rata homestay dan apartemen di Sydney pada 2026?
Biaya homestay di Sydney pada 2026 berkisar antara AUD 350–450 per minggu, sudah termasuk makanan dan utilitas. Apartemen studio di pusat kota Sydney rata-rata AUD 550–750 per minggu, belum termasuk listrik (AUD 30–50/minggu), internet (AUD 15–25/minggu), dan makanan (AUD 80–120/minggu). Share house di Sydney lebih murah, AUD 300–450 per minggu per kamar, termasuk utilitas.
Q2: Apakah homestay menyediakan makanan halal untuk pelajar Muslim Indonesia?
Ya, banyak keluarga homestay di NSW dan Victoria yang menyediakan makanan halal. Pada 2026, sekitar 60% homestay yang terdaftar di universitas-universitas besar seperti University of Sydney dan University of Melbourne menawarkan opsi halal. Pelajar harus menyebutkan kebutuhan ini saat mendaftar. Jika tidak ada, pelajar bisa memasak sendiri di dapur bersama, dengan izin keluarga.
Q3: Bagaimana cara pelajar Indonesia dari madrasah mendaftar ke universitas Australia?
Lulusan madrasah (MA) perlu memastikan ijazah mereka diakui oleh AEI-NOOSR. Mereka harus mengambil kursus bahasa Inggris (IELTS 6.5 atau TOEFL 79) dan mendaftar program foundation (8–12 bulan) di universitas tujuan. Biaya foundation sekitar AUD 20.000–30.000 per tahun. Beasiswa LPDP dan KAYS tersedia untuk program ini. Proses aplikasi memerlukan transkrip, surat rekomendasi, dan esai.
Q4: Apakah lebih murah tinggal di homestay atau apartemen di Melbourne?
Secara total, homestay di Melbourne (AUD 380–450/minggu) lebih murah daripada apartemen studio (AUD 500–650/minggu) jika menghitung semua biaya. Share house di Melbourne (AUD 280–400/minggu) bisa lebih murah daripada homestay, tetapi pelajar harus membeli makanan sendiri (AUD 80–100/minggu). Untuk tahun pertama, homestay lebih hemat karena biaya makanan sudah termasuk.
Q5: Bagaimana akses ke komunitas Indonesia di Australia untuk pelajar baru?
Pelajar baru bisa bergabung dengan ICCC (Indonesian Community Connect Centre) yang memiliki cabang di Sydney, Melbourne, Brisbane, dan Perth. ICCC menyediakan pendampingan akomodasi, acara sosial, dan bantuan darurat. Grup WhatsApp dan Facebook seperti “Pelajar Indonesia di Australia” juga aktif. Di NSW dan Victoria, terdapat pusat komunitas Indonesia seperti Rumah Indonesia di Melbourne yang mengadakan acara bulanan.
参考资料
- Department of Home Affairs, 2026, Student Visa and Accommodation Data Report
- Universities Australia, 2026, International Student Accommodation Survey
- Indonesian Community Connect Centre (ICCC), 2026, Annual Report on Indonesian Student Support
- LPDP (Lembaga Pengelola Dana Pendidikan), 2026, Beasiswa Luar Negeri: Panduan Akomodasi
- Australian Education International (AEI-NOOSR), 2026, Recognition of Indonesian Qualifications

