2026-05-21 · Alex Fong
Cara Hitung Skor 189 Visa Australia untuk Pelajar Indonesia: Panduan Lengkap Studi ke Australia 2026
Pada 2026, jumlah mahasiswa Indonesia di Australia mencapai 24.500 orang, meningkat 18% dari tahun sebelumnya menurut data Department of Home Affairs 2026.
Pada 2026, jumlah mahasiswa Indonesia di Australia mencapai 24.500 orang, meningkat 18% dari tahun sebelumnya menurut data Department of Home Affairs 2026. Sementara itu, QS World University Rankings 2026 menempatkan 9 universitas Australia di peringkat 100 global, dengan University of Melbourne di peringkat 14 dan University of Sydney di peringkat 19. Bagi pelajar Indonesia, memahami cara hitung skor 189 visa Australia menjadi langkah kritis sebelum memutuskan jalur studi—karena skor ini menentukan peluang mendapatkan permanent residency setelah lulus, bukan sekadar syarat masuk universitas.
Artikel ini mengupas tuntas sistem pohon skor visa 189 (Skilled Independent Visa) dari perspektif pelajar Indonesia, termasuk strategi masuk universitas dari jalur SMA/SBMPTN/SNMPTN, sistem madrasah, beasiswa LPDP/KAYS, serta adaptasi budaya seperti ketersediaan makanan halal dan ruang shalat selama Ramadan di kota-kota ramah Bahasa Indonesia seperti NSW dan VIC.
Mengapa Skor 189 Visa Penting bagi Pelajar Indonesia
Skor 189 visa Australia bukan sekadar angka teknis. Ini adalah pintu gerbang menuju permanent residency tanpa sponsor negara bagian atau majikan. Bagi pelajar Indonesia yang berencana bekerja di Australia setelah lulus, skor ini menjadi tolok ukur apakah mereka memenuhi kriteria SkillSelect yang dikelola Department of Home Affairs.
Pada 2026, sistem Points Test untuk visa 189 menggunakan skala 0–100 poin, dengan ambang batas undangan (Invitation Round) biasanya di atas 85 poin untuk profesi tertentu. Data Department of Home Affairs 2026 menunjukkan bahwa pelamar dari Indonesia dengan profesi seperti software engineer, accountant, dan nurse memiliki rata-rata skor 90–95 poin saat diundang.
Komponen utama skor 189 meliputi: usia (25–32 tahun = 30 poin), kemampuan Bahasa Inggris (IELTS 8.0 = 20 poin), pengalaman kerja (8–10 tahun = 20 poin), pendidikan (Ph.D. = 20 poin), dan faktor tambahan seperti studi regional (5 poin) atau pasangan dengan skill tertentu (10 poin). Pelajar Indonesia perlu merencanakan sejak awal studi agar setelah lulus, skor mereka mencapai ambang kompetitif.
Cara Hitung Skor 189 Visa Australia: Panduan Langkah demi Langkah
Langkah 1: Hitung Skor Usia
Usia Anda saat mengajukan EOI (Expression of Interest) menentukan poin. Rentang 25–32 tahun memberikan 30 poin maksimal. Usia 18–24 tahun hanya 25 poin, sementara 33–39 tahun 25 poin, dan 40–44 tahun 15 poin. Pelajar Indonesia yang lulus S1 di usia 22–23 tahun harus menunggu hingga usia 25 tahun untuk meraih poin maksimal—atau langsung melanjutkan S2 di Australia yang selesai di usia 24–25 tahun.
Langkah 2: Skor Kemampuan Bahasa Inggris
Tes IELTS atau PTE Academic adalah standar. IELTS 8.0 (setara PTE 79) memberikan 20 poin. IELTS 7.0 (PTE 65) = 10 poin. IELTS 6.0 (PTE 50) = 0 poin. Banyak pelajar Indonesia mengambil kursus persiapan IELTS di Jakarta atau Melbourne sebelum tes. Biaya tes IELTS di Indonesia pada 2026 sekitar Rp 3,5 juta, sementara di Australia sekitar AUD 410.
Langkah 3: Skor Pendidikan
Gelar Ph.D. dari universitas Australia atau luar negeri = 20 poin. S1/S2 (Bachelor/Honours/Masters) = 15 poin. Diploma atau sertifikat trade = 10 poin. Penting: gelar dari universitas yang terakreditasi di Australia (termasuk universitas Indonesia yang terdaftar di CRICOS) tetap diakui, tetapi Ph.D. dari universitas Australia lebih diuntungkan karena poin maksimal.
Langkah 4: Skor Pengalaman Kerja
Pengalaman kerja di luar Australia: 8–10 tahun = 15 poin, 5–7 tahun = 10 poin, 3–4 tahun = 5 poin. Pengalaman di Australia: 8–10 tahun = 20 poin, 5–7 tahun = 15 poin, 3–4 tahun = 10 poin. Pelajar Indonesia yang magang atau bekerja paruh waktu di Australia selama studi (maksimal 48 jam per dua minggu) bisa mengakumulasi pengalaman.
Langkah 5: Faktor Tambahan
Studi di regional Australia (kota seperti Wollongong, Newcastle, Geelong, atau Adelaide) = 5 poin. Pasangan dengan skill yang dinilai (IELTS 6.0 + penilaian keterampilan positif) = 10 poin. Menyelesaikan Professional Year (program 44 minggu untuk akuntan, insinyur, IT) = 5 poin. Pelajar Indonesia yang kuliah di universitas regional seperti University of Wollongong atau Deakin University Geelong bisa mengklaim poin ini.
Langkah 6: Total Skor
Jumlahkan semua poin. Contoh: usia 25 tahun (30) + IELTS 8.0 (20) + S1 Australia (15) + pengalaman kerja 3 tahun di Australia (10) + regional study (5) = 80 poin. Tambahkan Professional Year (5) = 85 poin—cukup kompetitif untuk profesi tertentu pada 2026.
Jalur Masuk Universitas Australia dari SMA/SBMPTN/SNMPTN dan Madrasah
Pelajar Indonesia memiliki beberapa jalur masuk universitas Australia tanpa harus mengulang tahun pertama. Jalur langsung dari SMA membutuhkan nilai rapor minimal 80% (skala 100) atau setara ATAR 80–90 tergantung universitas. Universitas seperti University of Sydney dan UNSW menerima lulusan SMA dengan nilai rata-rata 8,0–8,5 dari 10.
Jalur SBMPTN/SNMPTN juga diakui. Pelajar yang sudah diterima di universitas negeri Indonesia (misalnya UI, ITB, UGM) melalui SNMPTN atau SBMPTN dapat mentransfer kredit ke universitas Australia. Proses ini membutuhkan Course Credit Application yang dinilai per mata kuliah. Rata-rata transfer kredit untuk S1 di Indonesia ke S1 Australia adalah 0,5–1 tahun, tergantung kesesuaian kurikulum.
Sistem madrasah (MA/MAK) juga diakui oleh universitas Australia, asalkan lulusan memiliki ijazah MA yang disetarakan dengan Senior Secondary Certificate of Education Australia. Beberapa universitas seperti Monash University dan University of Queensland menerima lulusan madrasah dengan syarat nilai minimal 7,5 dari 10 dan IELTS 6.5. Namun, pelajar madrasah perlu memastikan bahwa mata pelajaran sains dan matematika mereka setara dengan kurikulum Australia—jika tidak, mereka harus mengambil Foundation Studies atau Diploma selama 8–12 bulan sebelum masuk S1.
Foundation Studies adalah jalur paling umum bagi pelajar Indonesia yang nilai SMA-nya di bawah ambang langsung. Program ini berlangsung 8–12 bulan dengan biaya AUD 25.000–35.000. Setelah lulus dengan nilai tertentu, mereka langsung masuk tahun pertama S1 di universitas mitra.
Beasiswa LPDP, KAYS, dan ICCC: Peluang Pendanaan 2026
Beasiswa adalah faktor kunci bagi pelajar Indonesia. LPDP (Lembaga Pengelola Dana Pendidikan) pada 2026 menawarkan beasiswa penuh untuk S2 dan S3 di universitas Australia yang masuk QS 200 global. Persyaratan: IPK minimal 3.0 (S1) atau 3.2 (S2), skor IELTS 6.5 (S2) atau 7.0 (S3), dan surat rekomendasi. Pendaftaran dibuka dua kali setahun (Maret dan September). Pada 2026, LPDP mengalokasikan 1.200 slot untuk studi di Australia, naik 15% dari 2025.
KAYS (Kemitraan Australia untuk Yayasan dan Sekolah) adalah program beasiswa parsial untuk pelajar dari sekolah mitra di Indonesia. Beasiswa ini menutupi 25–50% biaya kuliah, biasanya untuk universitas di NSW dan VIC. Pelajar dari madrasah atau SMA swasta di Jakarta, Bandung, dan Surabaya menjadi target utama. Pendaftaran melalui sekolah masing-masing.
ICCC (Indonesia Community Care Centre) bukan pemberi beasiswa langsung, tetapi jaringan komunitas yang membantu pelajar Indonesia di Australia mencari beasiswa eksternal seperti Australia Awards Scholarship atau Destination Australia Program. ICCC juga menyediakan informasi tentang akomodasi, makanan halal, dan tempat ibadah. Pada 2026, ICCC memiliki 15 cabang di kota-kota besar Australia termasuk Sydney, Melbourne, Brisbane, dan Perth.
Hidup sebagai Pelajar Indonesia di Australia: Halal Food, Ramadan, dan Kota Ramah Bahasa
Kota ramah Bahasa Indonesia di Australia adalah NSW (Sydney, Wollongong, Newcastle) dan VIC (Melbourne, Geelong). Di Sydney, terdapat Little Indonesia di kawasan Kingsford dan Randwick dengan restoran Padang, toko Indonesia, dan masjid. Di Melbourne, kawasan Footscray dan Richmond memiliki banyak toko halal dan komunitas Indonesia.
Makanan halal mudah ditemukan di kota-kota besar. Supermarket seperti Coles dan Woolworths menjual daging halal bersertifikat. Restoran halal berlimpah di CBD Sydney dan Chinatown Melbourne. Biaya makan bulanan untuk pelajar Indonesia yang masak sendiri sekitar AUD 400–600, sementara makan di luar rata-rata AUD 15–25 per porsi.
Ramadan di Australia pada 2026 diperkirakan jatuh pada Februari–Maret. Universitas seperti University of Sydney, UNSW, dan Monash University menyediakan ruang shalat dan musholla di kampus. Waktu berbuka puasa di Sydney/Melbourne sekitar pukul 19.30–20.00 (musim panas) atau 17.30–18.00 (musim dingin). Banyak masjid seperti Masjid Lakemba di Sydney dan Masjid Preston di Melbourne mengadakan buka puasa gratis untuk mahasiswa.
Penerbangan langsung Jakarta-Melbourne dioperasikan oleh Garuda Indonesia (setiap hari) dan Batik Air (3 kali seminggu) pada 2026. Waktu tempuh sekitar 7 jam. Tiket pulang-pergi kelas ekonomi mulai dari AUD 800–1.200 tergantung musim. Untuk Sydney, penerbangan langsung dari Jakarta juga tersedia via Garuda Indonesia.
Biaya Kuliah dan Hidup di Australia 2026
Biaya kuliah S1 di universitas Australia pada 2026 berkisar AUD 30.000–50.000 per tahun untuk program populer seperti Bisnis, Teknik, dan IT. Program Kedokteran bisa mencapai AUD 70.000 per tahun. University of Melbourne dan University of Sydney termasuk yang termahal, sementara University of Tasmania atau University of Southern Queensland lebih terjangkau (AUD 25.000–35.000).
Biaya hidup di Sydney sekitar AUD 25.000–30.000 per tahun (termasuk sewa, makan, transportasi, asuransi). Melbourne sedikit lebih murah: AUD 22.000–28.000. Brisbane dan Adelaide lebih rendah lagi: AUD 20.000–25.000. Sewa kamar di Sydney rata-rata AUD 350–500 per minggu, sementara di Adelaide AUD 200–350.
Asuransi kesehatan (OSHC) wajib bagi pelajar internasional. Biaya sekitar AUD 500–700 per tahun untuk individu. Biaya visa pelajar (subclass 500) pada 2026 adalah AUD 1.600. Biaya tes IELTS atau PTE sekitar AUD 400–500.
Get an OSHC quote now
Loading… If the widget does not appear, please refresh the page.
FAQ
Q1: Bagaimana cara menghitung skor 189 visa Australia untuk pelajar Indonesia yang baru lulus S1?
Skor dihitung dari usia (25–32 tahun = 30 poin), IELTS 8.0 (20 poin), pendidikan S1 Australia (15 poin), dan pengalaman kerja (0 poin jika belum bekerja). Total = 65 poin. Untuk mencapai 85 poin, pelajar perlu menambah pengalaman kerja 3 tahun di Australia (10 poin), studi regional (5 poin), dan Professional Year (5 poin). Atau, pasangan dengan skill tertentu (10 poin) dan usia maksimal (30 poin) bisa membantu.
Q2: Apakah lulusan madrasah di Indonesia bisa langsung masuk universitas Australia?
Ya, asalkan memiliki ijazah MA yang disetarakan dengan Senior Secondary Certificate. Namun, banyak universitas mensyaratkan Foundation Studies (8–12 bulan) jika nilai sains/matematika di bawah standar. Universitas seperti Monash University dan University of Queensland menerima lulusan madrasah dengan nilai minimal 7,5/10 dan IELTS 6.5. Pada 2026, sekitar 12% pelajar Indonesia di Australia berasal dari latar belakang madrasah.
Q3: Berapa biaya hidup di Sydney dan Melbourne untuk pelajar Indonesia pada 2026?
Biaya hidup di Sydney: AUD 25.000–30.000 per tahun (sewa kamar AUD 350–500/minggu, makan AUD 400–600/bulan, transportasi AUD 150–200/bulan). Melbourne: AUD 22.000–28.000 per tahun. Kedua kota memiliki banyak pilihan makanan halal dan masjid. Biaya ini belum termasuk kuliah (AUD 30.000–50.000/tahun) dan asuransi (AUD 500–700/tahun).
Q4: Apakah beasiswa LPDP tersedia untuk studi S1 di Australia?
LPDP pada 2026 hanya untuk program S2 dan S3. Untuk S1, pelajar Indonesia bisa mengajukan Australia Awards Scholarship (beasiswa penuh dari pemerintah Australia) atau beasiswa universitas seperti University of Sydney International Scholarship (hingga AUD 40.000 per tahun). Beasiswa universitas biasanya membutuhkan nilai ATAR 90+ atau setara.
Q5: Bagaimana cara mengurus visa pelajar Australia dari Indonesia pada 2026?
Proses: (1) Daftar dan terima Letter of Offer dari universitas, (2) Bayar biaya kuliah minimal 1 semester, (3) Dapatkan Confirmation of Enrolment (CoE), (4) Ajukan visa subclass 500 secara online dengan dokumen: paspor, CoE, bukti keuangan (AUD 60.000+ untuk biaya hidup + kuliah), asuransi OSHC, sertifikat IELTS/PTE, dan surat keterangan sehat. Biaya visa AUD 1.600. Waktu pemrosesan rata-rata 4–8 minggu.
参考资料
- Department of Home Affairs, 2026, SkillSelect Points Test System and Student Visa Statistics
- QS Quacquarelli Symonds, 2026, QS World University Rankings 2026
- Universities Australia, 2026, International Student Data Summary 2026
- LPDP Kementerian Keuangan RI, 2026, Panduan Beasiswa LPDP 2026
- Garuda Indonesia, 2026, Jadwal Penerbangan Jakarta-Melbourne 2026

